Senin, 18 Juli 2016

ini puisi tentang hal menggelikan dari tubuhmu yang semakin renta dijamah waktu yang terlihat gelisah

dagu mu kuibaratkan sebuah jeram
meskipun ku tahu dia mematikan, tapi siapa yang sanggup menolak godaan untuk tenggelam berasamanya

betis mu dengan bulu halus itu adalah padang rumput yang belum jadi
sudah pasti aku tidak sabar untuk mainkannya
tanpa alas kaki dengan hanya celana pendek di badan, aku akan bersemangat dengan layang layang yang kelihatan ragu ragu tariannya

alis mu, seperti lembut ombak bertemu pantai di pagi hari
memaksa aku untuk sekali lagi menjadi anak anak, berkejaran dengannya

lalu senyummu, hah...
aku selalu gagal menemukan kata terbaik untuknya
bayangkan tersesat di tengah gurun yang tak pernah kau kenal sebelumnya
di antara nafas yang semakin membingungkan iramanya, dan senyum itu yang bisa kau pikirkan


-Putra A. Hasibuan-sastrapuisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar